Baca dan simak:
“Hari ini adalah hari yang sangat sibuk untuk kelompok studi kalian. Setelah berjam-jam berkutat dengan tugas, kalian memutuskan untuk rehat sejenak di kantin. Andi, sang ketua kelompok, dengan percaya diri membawa dua buah gelas berisi air untuk semua anggota. ‘Ini ada teh hangat untuk melepas lelah,’ katanya sambil menyerahkan gelas pertama. Lalu ia mengeluarkan gelas kedua, ‘Dan ini ada es teh segar untuk menyegarkan!’
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Dina, anggota termuda, segera memprotes, ‘Kak, ini teh hangatnya kok rasanya cuma anget saja? Tidak terlalu hangat.’ Sementara itu, Rizal yang mengambil es teh juga mengeluh, ‘Es tehnya juga tidak terlalu dingin, cepat sekali esnya mencair.’
Andi terkesiap. Padahal, baru 10 menit yang lalu ia menyeduh teh panas dan menuang es teh ke dalam gelas. Ia ingat, kedua gelas yang ia gunakan ternyata berbeda. Gelas untuk teh hangat adalah gelas kaca tebal biasa, sedangkan gelas untuk es teh adalah cangkir styrofoam putih yang sering dipakai untuk kopi panas.
Mengapa kedua minuman itu begitu cepat kehilangan ‘sifat’ suhunya? Apakah jenis wadahnya berpengaruh? Bagaimana kita bisa menghitung pertukaran energi panas yang terjadi antara minuman dengan lingkungan atau dengan es? Untuk memecahkan misteri ini, kita perlu mempelajari ilmu Kalorimetri—cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran panas (kalor) yang diserap atau dilepas dalam suatu proses.”
Jawab Pertanyaan berikut (di kolom komentar di bawah) :
Berdasarkan cerita “Detektif Kalor”, mengapa teh hangat di gelas kaca terasa lebih cepat menghangat (turun suhunya) dibandingkan jika ditaruh di cangkir styrofoam? Jelaskan dengan menggunakan konsep kapasitas kalor atau konduktivitas termal dari bahan wadah!
Jika dalam percobaan kalorimetri nyata (mencampur dua zat) suhu akhir yang diukur selalu sedikit lebih rendah dari hasil perhitungan teoritis (seperti di soal no.2), apa yang menjadi penyebab kemungkinannya? Jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan ketidakakuratan tersebut dalam konteks sistem tertutup yang ideal vs. kenyataan.
Sebagai “detektif kalor”, kamu ingin mendesain kemasan untuk menjaga makanan tetap panas atau tetap dingin lebih lama untuk keperluan pengiriman. Prinsip-prinsip kalorimetri apa saja yang harus kamu pertimbangkan dalam pemilihan bahan kemasan tersebut? Jelaskan juga mengapa memahami konsep ini penting dalam konteks mengurangi limbah (misalnya, memilih bahan yang efektif tapi ramah lingkungan).
#Jangan lupa cantumkan nama