Nama kelompok:-Ratih Purwasih -Nur Marisa Kelas:X-3
1 . a. Rasa terisolasi dan dikucilkan Siswa yang tidak tergabung dalam Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak diterima secara sosial. Hal ini berdampak negatif karena manusia membutuhkan interaksi dan pengakuan sosial untuk menjaga kesehatan mental dan kepercayaan diri. b. Kesenjangan informasi akademik Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup privat Klub Gold. Dampaknya, siswa lain tertinggal secara akademik bukan karena kemampuan, tetapi karena tidak mendapat akses informasi. c. Munculnya cyberbullying pasif Komentar sarkastik, pamer gaya hidup, dan sikap eksklusif di media sosial menimbulkan tekanan psikologis. Walau tidak menyerang langsung, hal ini tetap menyakiti dan menurunkan rasa percaya diri siswa lain.
2 .Kesenjangan digital tidak hanya soal kepemilikan gadget atau internet, tetapi juga akses terhadap informasi dan relasi sosial. Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital dengan cara: Memonopoli informasi penting melalui grup chat tertutup sehingga hanya kelompok tertentu yang mengetahui perkembangan sekolah. Membatasi relasi sosial, karena hanya siswa tertentu yang dianggap “layak” untuk masuk lingkaran pergaulan. Menciptakan eksklusivitas digital, di mana media sosial menjadi alat pemisah status sosial, bukan sarana komunikasi yang menyatukan.
3.Jika saya termasuk salah satu dari 30 siswa yang pertama kali diikuti akun tersebut, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah: Mengusulkan agar informasi sekolah dibagikan secara terbuka, bukan hanya di grup eksklusif. Menolak konten pamer yang berlebihan dan mengingatkan teman bahwa media sosial seharusnya tidak merendahkan pihak lain. Mengajak siswa lain bergabung dalam kegiatan nyata, seperti belajar kelompok terbuka atau kerja kelompok lintas kelas. Memberi masukan secara sopan kepada pembuat akun tentang dampak sosial yang bisa timbul dari sikap eksklusif.
4 .Inisiatif: Akun Instagram Sekolah “@InfoCendekia” Deskripsi: Akun resmi atau semi-resmi yang dikelola OSIS dan guru pendamping. Berisi informasi akademik, pengumuman kegiatan, dan konten positif tentang kebersamaan. Kolom komentar diawasi agar bebas dari sindiran dan ujaran merendahkan. Tujuan: Menjamin akses informasi yang adil bagi seluruh siswa. Menumbuhkan etika berkomunikasi digital yang sopan dan bertanggung jawab. Mencegah munculnya kelompok eksklusif yang merugikan iklim sosial sekolah.
NAMA : AZZRILLA ZAHRA RAHARJA DAN SYA'REA FUTRI KELAS : X-3 JAWABAN 1. Dampak Negatif : - Eksklusi Sosial → siswa di luar klub merasa tersisih & tidak dianggap. - Kesenjangan Informasi → info tugas/jadwal hanya beredar di grup privat sehingga merugikan siswa lain. -Tekanan Psikologis → konten pamer membuat siswa minder & menurunkan kepercayaan diri.
2. Memperbesar Kesenjangan Digital Karena: - Informasi penting hanya bisa diakses kelompok tertentu. - Relasi sosial jadi tertutup dan tidak merata. - Siswa di luar klub sulit berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan sosial.
3. Tindakan Etis Sebagai Anggota Awal Klub Gold: - Membagikan info sekolah ke grup resmi kelas. - Mengingatkan pembuat akun agar tidak eksklusif. - Mendorong agar akun bersifat terbuka atau tidak membawa urusan sekolah.
4. Ide Inisiatif Sederhana: Membuat akun/grup info sekolah resmi yang terbuka untuk semua siswa, khusus untuk pengumuman akademik, dengan aturan etika komunikasi dan pengawasan guru.
1. Eksklusi Sosial Pengucilan Menciptakan batasan antara si "populer" dan "biasa saja", yang merusak rasa persaudaraan dan membuat siswa seperti Sofi merasa terisolasi. Kesenjangan Informasi: Informasi penting sekolah menjadi tidak merata. Hal ini kerena siswa di luar grup kehilangan hak akses informasi pendidikan yang setara. Gangguan Kesehatan Mental: Menimbulkan rasa khawatir, tidak percaya diri, dan kemurungan akibat merasa tidak memenuhi standar "keren" di media sosial. 2. Memperbesar Kesenjangan Digital Dalam kasus ini, kesenjangan digital bukan lagi soal siapa yang punya smartphone mahal, melainkan kesenjangan akses informasi dan modal sosial. Informasi: Teknologi digunakan untuk membatasi penyebaran info penting hanya kepada kelompok tertentu. Relasi: Media sosial disalahgunakan di mana mereka yang tidak "terkoneksi" secara digital kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi di dunia nyata. 3. Tindakan Etis sebagai Anggota "Klub Gold" Jika saya terpilih, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah: Menolak secara halus: Tidak mengikuti balik akun tersebut jika tujuannya hanya untuk pamer Menjadi jembatan: Tetap membagikan informasi penting dari grup privat tersebut ke grup kelas umum agar semua teman mendapatkan akses informasi yang sama. Menyarankan Menghubungi pembuat akun secara pribadi dan menyarankan agar kontennya lebih merangkul semua siswa dan tidak menggunakan tag #InnerCircle yang memicu perpecahan. 4. ide sederhana Gerakan #CendekiaConnect Konsepnya sebuah kampanye sekolah di mana setiap kelas memiliki satu grup besar yang wajib menyertakan seluruh siswa tanpa terkecuali. Aturan Tak Tertulis: "Informasi Akademik Adalah Milik Bersama." Artinya, setiap informasi sekolah yang masuk ke grup privat harus di- screenshot dan dibagikan ke grup kelas umum dalam waktu maksimal 10 menit. Tujuan: Menjadikan media sosial sebagai sarana kolaborasi, bukan kompetisi status sosial.
Nama kelompok : •yuanisa putri • Cahya mulidiyani Kelas. : X-3
1. •Marginalisasi (Pengucilan): Siswa di luar grup merasa rendah diri dan tidak dianggap. •Ketidakadilan Akademik: Informasi penting (remedial) terhambat, merugikan siswa secara nilai. •Polarisasi Lingkungan: Munculnya kubu-kubu yang saling sindir, merusak kekompakan sekolah. 2.Kesenjangan bukan lagi soal punya gadget atau tidak, melainkan monopoli informasi. Klub Gold menggunakan teknologi sebagai "benteng" untuk membatasi siapa yang boleh tahu informasi penting, sehingga siswa yang tidak terkoneksi secara sosial menjadi tertinggal secara informasi. 3. •Edukasi Teman: Mengingatkan admin agar akun lebih terbuka dan tidak pamer. •Distribusi Informasi: Menyebarkan info penting dari grup privat ke grup kelas umum agar semua tahu. •Sikap Inklusif: Tetap bergaul dengan teman di luar grup untuk mematahkan kesan eksklusif. 4.Aturan "Satu Pintu": Kesepakatan bahwa semua info sekolah wajib dibagikan di grup kelas resmi. Jika ada info yang sengaja disembunyikan di grup privat, hal itu dianggap pelanggaran etika kelas. Ini memastikan akses informasi setara bagi semua siswa tanpa terkecuali.
1. Tiga Dampak Sosial Negatif dari Klub Gold a. Rasa Terkucilkan dan Rendah Diri Siswa yang tidak masuk Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak “cukup keren”. Hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri, membuat mereka sedih, cemas, bahkan kehilangan semangat belajar. b. Kesenjangan Informasi Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup eksklusif. Ini merugikan siswa lain karena mereka kehilangan akses terhadap informasi akademik yang seharusnya terbuka untuk semua. c. Perpecahan dan Polarisasi Sosial Terjadi pengelompokan di sekolah (meja kantin terpisah, sindiran di media sosial). Hal ini merusak kebersamaan dan menciptakan suasana tidak nyaman di lingkungan sekolah. d. Cyberbullying Pasif (tambahan jika ingin lebih dari 3) Walaupun tidak menghina secara langsung, sikap pamer dan eksklusif bisa menjadi bentuk tekanan sosial yang membuat siswa lain merasa tersisih. 2. Bagaimana Klub Gold Memperbesar Kesenjangan Digital Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang punya HP mahal atau internet cepat, tetapi juga soal akses terhadap informasi dan jaringan sosial. Klub Gold memiliki akses informasi lebih cepat dan eksklusif, seperti jadwal dan tugas sekolah. Mereka memiliki jaringan relasi sosial yang tertutup, sehingga kesempatan untuk berpartisipasi menjadi tidak merata. Siswa di luar klub kehilangan kesempatan untuk terlibat, berkolaborasi, dan membangun koneksi. Akibatnya, media sosial yang seharusnya menyatukan justru menciptakan batas sosial baru di sekolah. 3. Jika Saya Termasuk 30 Siswa Pertama Tindakan etis yang bisa dilakukan: Mengusulkan agar informasi sekolah tetap dibagikan di grup kelas resmi. Mengingatkan teman bahwa bio seperti “Hanya untuk yang terpilih” bisa menyakiti perasaan orang lain. Mengajak teman di luar klub untuk tetap dilibatkan dalam kegiatan. Tidak ikut menyebarkan konten yang bersifat pamer atau eksklusif berlebihan. Berdiskusi secara baik-baik dengan pembuat akun tentang dampaknya. Intinya, bersikap inklusif dan empati, bukan hanya ikut arus. 4. Ide Inisiatif untuk Mencegah Kasus Serupa π‘ Program “Cendekia Connect” Bentuknya: Akun Instagram resmi siswa yang dikelola OSIS untuk membagikan informasi sekolah secara terbuka. Aturan tidak tertulis: Informasi akademik wajib dibagikan di grup kelas resmi. Kampanye digital bertema: #SekolahUntukSemua Sesi edukasi singkat tentang etika digital dan empati di media sosial. Tujuannya: Menciptakan komunikasi yang transparan. Mengurangi eksklusivitas berlebihan. Menumbuhkan budaya saling menghargai di dunia maya maupun nyata.
Nama Kelompok : Queenzha Nahla Audrey & Ade Nadya Putri Kelas : X-3 1. Dampak Sosial Negatif: Rasa terkucilkan & rendah diri : Siswa di luar klub merasa tidak dianggap. Kesenjangan informasi : Info penting hanya dibagikan di grup eksklusif. Perpecahan sosial : Muncul kelompok-kelompok dan komentar negatif. 2. Kesenjangan Digital: Bukan soal gadget, tapi soal akses informasi dan pertemanan. Anggota Klub Gold mendapat info dan relasi lebih luas, sedangkan yang lain tertinggal dan terisolasi. 3. Tindakan Etis: Mengingatkan agar info sekolah dibagikan ke semua siswa. Tidak mendukung konten eksklusif yang merugikan. Tetap mengajak semua teman bergaul bersama. 4. Ide Inisiatif: Buat akun resmi sekolah untuk membagikan semua info secara terbuka dan adakan kampanye etika digital agar media sosial digunakan secara inklusif.
1.A.Rasa terisolasi dan rendah diri Siswa diluar Kiub good Merasa Fidor dianggap dan tidak "CUKUP Keren" Sehingga muncul perasaan minder, Cemas, dan lertekan secara Sosios
B. kesenjangan informasi akademie imformasi perniting seperti Jadwal fenmedial, fugas, dan kuis hanya dibagran di grup Privat, Sehingga siswa lain dirugikan secara akademik.
C. Perpecahan dan konflik sosiou adanya kubu EKSKLUSIF dan tandingan menyebabkan hubungan antar Siswa renggang, muncul komentar sarkastik, dan menurunnya rasa kebersamaan di sekolah
2. -Merubatasi akses informasi sekolah hanya pada Kelompok tertentu
- jaringan pertemanan eksklusif yg memberi Keuntungan sosial dan akademik
-Membuat Siswa lain tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak diberi akses.
3. -Mengajak admin untuk membuka akses Informasi Penting bagi seluruh
-Menarak albau mengingatkan jika ada konten yg bersifat Parmer, merendah kan, atau aksklusif
-Mangusulkan agar akun difungsikan sebagai akun kegiatan Posikir buran Lingkaran Eartutup
4. -Manbagikan Informasi Akademik dan kegiatan Sekolah Secara terbaka
-Dikaiola bersama osis dan Perwakilan Karas
-Mamiziki aturan atika digeas sederhana, Seperti, lidokaklusif, tidak marandahkan dan tidak menyebar Sindran
NAMA: GEA MARGARET HANDAYANI DAN AYRA TATALITA CAMELIEN LIU KELAS: X-3
1. Dampak Negatif Klub Gold: - Rasa Terkucilkan: Membuat siswa merasa tidak termasuk dan merusak kebersamaan di sekolah. - Kesenjangan Informasi: Menghambat kesempatan belajar yang setara karena info penting hanya beredar di grup eksklusif. - Polarisasi: Menciptakan konflik dan lingkungan yang tidak sehat akibat komentar sarkastik di media sosial.
2. Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital bukan hanya dari sisi gadget, tetapi juga membatasi akses terhadap informasi penting dan kesempatan membangun relasi sosial yang inklusif.
3. Tindakan Etis: Ajak anggota Klub Gold untuk membuka akses informasi dan kegiatan kepada semua siswa. Inisiasi kegiatan yang melibatkan seluruh siswa tanpa memandang status sosial. 4. Inisiatif Sekolah: Buat akun "CendekiaInklusif" untuk menyebarkan informasi sekolah secara merata, mempromosikan kegiatan inklusif, dan menjadi wadah diskusi tentang etika digital di kalangan siswa.
JAWABAN TUGAS KELOMPOK ANGGOTA KELOMPOK : 1). ELKA NOPITA RAHMAH 2). INSYIRA HANA NURHUWAIDA MAPEL : INFORMATIKA KELAS : RABU, 11 - 02 - 2026 1. Dampak sosial negatif dari penggunaan media sosial oleh Klub Gold Berikut 3 dampak sosial negatif yang ditimbulkan: a. Rasa terkucil dan tidak percaya diri Siswa yang tidak tergabung dalam Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak “cukup keren”. Hal ini membuat mereka minder, sedih, bahkan menarik diri dari pergaulan. b. Kesenjangan informasi sekolah Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup privat Klub Gold. Akibatnya, siswa lain ketinggalan informasi dan bisa dirugikan secara akademik. c. Munculnya konflik dan perpecahan sosial Terjadi pengelompokan siswa (polarisasi) di kantin dan media sosial. Komentar sarkastik dan sindiran memicu suasana tidak nyaman dan merusak kebersamaan di sekolah. 2. Cara praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital (digital divide) Kesenjangan digital tidak hanya soal punya atau tidak punya gadget, tetapi juga soal akses informasi dan relasi sosial. Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital karena: Informasi penting hanya beredar di grup tertutup, sehingga siswa di luar grup kehilangan hak yang sama untuk tahu. Relasi sosial menjadi eksklusif, hanya menguntungkan kelompok tertentu. Media sosial digunakan sebagai alat pembatas pergaulan, bukan sebagai sarana komunikasi yang inklusif. Akibatnya, siswa seperti Sofi tetap “tertinggal” walaupun punya HP dan internet. 3. Tindakan etis jika menjadi anggota awal Klub Gold 1). Jika saya termasuk 30 siswa yang pertama kali diikuti akun tersebut, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah: 2). Mengusulkan agar informasi sekolah dibagikan juga di grup kelas atau akun resmi sekolah. 3). Tidak ikut menyebarkan konten yang menunjukkan sikap pamer atau merendahkan siswa lain. 4). Mengingatkan admin akun bahwa media sosial seharusnya membangun kebersamaan, bukan eksklusivitas. 5). Mengajak teman di luar Klub Gold untuk ikut belajar kelompok atau kegiatan bersama. 4. Ide inisiatif sederhana untuk mencegah kasus serupa Inisiatif: Akun Instagram “InfoCendekia” Sebuah akun sekolah yang: Dikelola oleh OSIS dan guru pendamping Membagikan informasi sekolah secara terbuka dan merata Menampilkan kegiatan semua siswa tanpa membeda-bedakan Mengedukasi etika berkomunikasi digital (anti sindir, anti eksklusif) Dengan cara ini, media sosial menjadi alat pemersatu, bukan pemecah.
Nama kelompok:yusuf suories & giovanni evandes Kelas:x-3 No.1 Dampak positif aplikasi “kampungku”: 1.mempermudah komunikasi dan koordinasi warga 2.meningkatkan ekonomi masyarakat Dampak negatif aplikasi “kampungku” 1.berkurangnya interaksi sosial tatap muka 2.ada warga yang tersisih atau kehilangan peran sosial
2.pak tono bisa dijadikan agen layanan digital top up e-wallet pembayaran listrik paket data. Bu wati bisa menjadi narasuber konten budaya kampung
3.Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung Tidak menyebarkan hoaks atau informasi yang belum pasti benar
4.fitus “Agenda kopdar dan gotong royong warga” Aplikasi ini otomatis membuat jadwal kegiatan offline kerja bakti arisan olahraga bersama pengajian pasar minggu umkm Ada tombol “saya hadir” Manfaatnya warga kembali bertemu langsung gotong royong aktif lagi hubungan sosial menjadi lebih erat lagi teknologi akhirnya membantu bukan merusak kebersamaan warga
1. a. Menimbulkan Perasaan minder dan tidak Percaya diri
Anggota yang tidak masuk Klub Gold bisa merasa tidak dihargai atau dianggap "Kurang keren". Sehingga menurunkan rasa Percaya diri
b. Menciptakan Kelompok eksklusif (Pergaulan tertutup Klub Gold hanya berinteraksi dengan kelompok tertentu, Sehingga membuat Siswa lain merasa dikucilkan dan tidak diterima
C. memicu Konfik dan Perpecahan Sosial
Postingan atau curhat yang bersifat Pamer, menyindir, atau Mengejek dapat menimbulkan iri hati, kesalah pahaman, dan Konflik antar siswa
2. Cara klub Gold memperbesar kesenjangan digital. Kesenjangan digital bukan hanya Soal Punya atau tidaknya HP, tetapi Juga Soal akses informasi dan relasi Sosial,
a. Akses informasi tidak merata
Informasi Penting (tugas, kegiatan, Peluang lomba, dll.) hanya dibagikan di grup atau akun klub Gold, Sehingga siswa lain tertinggal.
b. Akses Telasi Sosial terbatas
Anggota klub Gold lebih mudah membangun Pertemanan kerja kelompok, dan relasi dengan guru atau senior, sementara siswa lain tersisih.
c. Dominasi opini dan Pengaruh
Klub Gold bisa mengontrol tren, opini, atau Pembicaraan di Sekolah lewat media sosial, Sehingga Suara siswa lain kurang didengar.
3. a. Tidak ikut menyebarkan Konten negatif, tidak me-like, Share, atau mendukung Postingan yang merendahkan orang lain.
b. Memberi masukan Secara Sopan. mengirim Pesan Pribadi atau Komentar Positif agar akun bersikap lebih inklusif
C. Mengajak teman lain untuk bergabung.
mendorong agar akun terbuka untuk Semua siswa, bukan Kelompok tertentu Saja
d. Melaporkan Jika melanggar etika
Jika ada Perundungan atau diskriminasi, melopor ke guru atau Pihak sekolah
4. Ide inisiatif Sederhana untuk mempromosikan Etika Digital Nama Inisiatif: "Sahabat Digital Sekolah"
Bentuk kegiatan : Dibuat akun instagram Sekolah khusus etika digital. Dikelola oleh Perwakilan siswa dan guru.
Berisi:
-Tips Komentar Sopan.
-konten anti bullying
-Cerita Inspiratif tentang kebersamaan
- Kampanye "Semua berhak didengar"
Aturan tidak tertulis:
-Tidak membuat grup ekslusif yang merugikar orang lain.
-Setiap informasi Penting harus dibagikan Secara terbuka.
NAMA KELOMPOK: Ahmad Prayuda dan justin manuel KLS: 3-X 1 Dampak positif dan negatif sosial dari aplikasi “KampungKu”
Dampak positif
1. Mempermudah akses informasi dan koordinasi Informasi kampung, pengumuman kerja bakti, dan layanan publik menjadi lebih cepat dan efisien tanpa harus menunggu papan pengumuman.
2. Meningkatkan ekonomi warga Contohnya Ibu Sari yang bisa menjual kue ke kampung lain lewat aplikasi. UMKM warga jadi lebih dikenal dan pendapatan meningkat.
Dampak negatif
1. Menurunnya interaksi sosial tatap muka Obrolan di warung kopi berkurang, gotong royong sepi, dan diskusi langsung tergantikan oleh chat singkat di aplikasi.
2. Sebagian warga merasa tersingkir Pak Tono dan Bu Wati kehilangan peran sosial dan ekonomi karena informasi dan layanan sudah tergantikan oleh teknologi digital.
Mana yang lebih kuat pengaruhnya?
Menurut saya, dampak negatif lebih kuat dalam cerita ini. Alasannya, meskipun aplikasi membawa kemudahan, tapi yang rusak adalah ikatan sosial dan rasa kebersamaan, yang justru menjadi kekuatan utama Kampung Ceria sejak awal. Teknologi membantu secara praktis, tapi jika tidak diimbangi, bisa membuat masyarakat menjadi individualistis dan kurang peduli.
2 Solusi untuk Pak Tono dan Bu Wati agar tidak terpinggirkan
Masyarakat dan pengelola aplikasi seharusnya tidak hanya fokus pada teknologi, tapi juga pada manusianya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Pelatihan dan pendampingan digital Pak Tono bisa diajari menjual pulsa digital, jasa pembayaran online, atau menjadi agen top-up resmi aplikasi “KampungKu”.
Melibatkan peran tradisional ke dalam aplikasi Bu Wati bisa diberi ruang khusus di aplikasi, misalnya fitur “Cerita & Pengetahuan Lokal”, tempat ia berbagi resep tradisional, sejarah kampung, atau silsilah keluarga.
Dengan begitu, teknologi bukan menggantikan mereka, tapi menguatkan peran mereka dengan cara baru.
Aturan netiket untuk mengurangi konflik di grup aplikasi
Agar konflik karena salah paham bisa diminimalkan, warga Kampung Ceria perlu menyepakati nilai netiket berikut:
1. Menggunakan bahasa yang sopan dan tidak provokatif Hindari kata-kata kasar, sindiran, atau huruf kapital berlebihan yang bisa dianggap marah.
2. Tidak langsung berasumsi negatif Jika pesan terasa menyinggung, warga harus bertanya atau klarifikasi dulu, bukan langsung menyalahkan.
3. Membaca pesan dengan teliti sebelum membalas Banyak konflik terjadi karena salah paham akibat membaca pesan setengah-setengah.
4. Menghargai perbedaan pendapat Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi orang lain.
5. Masalah sensitif dibahas secara pribadi atau lewat mediasi Tidak semua konflik perlu diumbar di grup umum.
Aturan ini membantu grup aplikasi menjadi ruang diskusi yang sehat dan memperkuat hubungan sosial, bukan merusaknya.
4 Usulan fitur / program untuk memperkuat ikatan sosial tatap muka
Usulan: Fitur “Agenda Warga & Pengingat Tatap Muka”
Cara kerjanya:
Aplikasi “KampungKu” memiliki fitur khusus yang menampilkan agenda kegiatan offline, seperti:
Kerja bakti
Arisan warga
Ngobrol santai di balai desa
Kegiatan budaya atau olahraga
Fitur ini dilengkapi:
Notifikasi khusus (prioritas) agar tidak tenggelam
Tombol “Hadir” supaya panitia tahu siapa saja yang datang
Setelah acara, warga diminta upload dokumentasi kegiatan untuk meningkatkan rasa kebersamaan.
Mengatasi masalah
Mengurangi ketergantungan pada interaksi online
Mendorong warga kembali bertemu langsung
Menghidupkan kembali budaya gotong royong dan obrolan hangat
Dengan fitur ini, aplikasi tidak menjauhkan warga, tapi justru menjadi jembatan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Nama:Ezhar gifary radit maulana Kelas:X-3 1. b. Dampak Positif & Negatif Dampak Positif: Ekonomi Meningkat: UMKM seperti usaha kue Ibu Sari bisa menjangkau pasar yang lebih luas (kampung tetangga). Efisiensi Birokrasi: Koordinasi kerja bakti oleh Pak RT jadi lebih cepat dan informasi desa terpusat. Dampak Negatif: Disrupsi Ekonomi Lokal: Pedagang tradisional seperti Pak Tono kehilangan pelanggan karena perubahan teknologi. Erosi Sosial: Berkurangnya interaksi tatap muka dan melemahnya semangat gotong royong secara fisik. Mana yang lebih kuat? Menurut kami, Dampak Negatif lebih kuat pengaruhnya di cerita ini. Alasannya, meskipun ekonomi naik, "roh" Kampung Ceria yaitu kebersamaan dan kerukunan justru mulai retak. Kemajuan materiil tidak ada artinya jika hubungan antarmanusia menjadi asing dan penuh konflik. 2. Solusi untuk Warga yang "Tertinggal" Masyarakat dan pengelola harus melakukan Inklusi Digital, bukan eksklusi: Transformasi Peran: Pak Tono bisa dibantu menjadi "Agen Digital Desa" (tempat bayar PPOB/Tagihan di aplikasi) agar kiosnya tetap ramai. Digitalisasi Kearifan Lokal: Bu Wati diberikan ruang khusus di aplikasi sebagai kontributor konten "Resep & Sejarah Desa" atau diundang sebagai pembicara dalam workshop rutin desa agar ilmunya tetap dihargai. 3. Aturan Netiket (Etika Digital) Agar tidak sering berantem di grup, warga perlu sepakat pada aturan Netiket menurut IETF: Prinsip Klarifikasi (Tabayyun): Dilarang menyimpulkan pesan yang bernada negatif secara sepihak. Jika ada yang kurang jelas, wajib bertanya langsung atau lewat telepon. Kendalikan Emosi (Flaming): Dilarang membalas pesan saat sedang marah. Gunakan bahasa yang santun dan hindari penggunaan huruf kapital semua (karena berkesan membentak). 4. Usulan Fitur: "Kupon Gotong Royong" Nama Fitur: QR-Action Kampung Cara Kerja: Setiap kali ada kegiatan tatap muka (kerja bakti, ronda, atau rapat), pengelola akan menyediakan QR Code untuk di-scan oleh warga yang hadir. Scan ini akan memberikan poin di aplikasi "KampungKu". Mengapa ini berhasil? Fitur ini menggunakan konsep Gamifikasi untuk menarik minat anak muda. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan dengan potongan harga di UMKM desa (seperti toko Ibu Sari). Jadi, aplikasi tidak lagi menjauhkan orang, tapi justru menjadi alasan bagi warga untuk datang dan bertemu secara fisik demi
1️⃣ Dampak Positif & Negatif Sosial Aplikasi “KampungKu”
✅ Dampak Positif:
1. Mempermudah komunikasi & koordinasi warga Pak Joko lebih mudah mengatur kerja bakti lewat aplikasi. Informasi jadi cepat sampai tanpa harus keliling rumah.
2. Meningkatkan ekonomi warga Ibu Sari bisa menerima pesanan dari luar kampung lewat fitur katalog UMKM. Artinya pasar jadi lebih luas dan penghasilan bisa meningkat.
---
❌ Dampak Negatif:
1. Interaksi tatap muka berkurang Warung kopi sepi, diskusi langsung berkurang. Hubungan sosial jadi lebih renggang karena komunikasi pindah ke layar.
2. Ada warga yang tersisih secara sosial & ekonomi Pak Tono kehilangan pembeli koran, Bu Wati merasa perannya tergantikan. Digitalisasi bikin sebagian orang tertinggal.
---
π Mana yang lebih kuat pengaruhnya?
Menurutku, dampak negatifnya lebih terasa dalam cerita tersebut.
Kenapa? Karena walaupun ekonomi dan informasi berkembang, hubungan sosial yang dulu hangat justru retak. Kampung itu bukan cuma soal akses informasi, tapi soal kebersamaan. Ketika gotong royong sepi dan diskusi jadi penuh salah paham, itu tanda bahwa ikatan sosialnya melemah. Dan dalam masyarakat desa, hubungan sosial itu pondasi utama.
---
π 2️⃣ Cara Membantu Warga yang “Tertinggal”
Supaya Pak Tono dan Bu Wati tidak terpinggirkan, masyarakat dan pengelola aplikasi bisa:
1. Melibatkan mereka dalam sistem digital
Pak Tono bisa diajak jadi agen pembayaran digital atau admin informasi lowongan kerja di aplikasi.
Bu Wati bisa dibuatkan fitur “Warisan Kampung” berisi silsilah keluarga dan resep tradisional yang dikelola olehnya.
2. Mengadakan pelatihan literasi digital Supaya warga yang belum terbiasa dengan teknologi tetap bisa ikut berkembang, bukan malah tersisih.
Intinya: digitalisasi bukan menggantikan manusia, tapi harus memberdayakan manusia.
---
π 3️⃣ Aturan Netiket untuk Mengurangi Konflik
Beberapa aturan yang perlu disepakati warga:
1. Gunakan bahasa yang sopan & jelas
2. Hindari menyebarkan informasi sebelum cek kebenarannya
3. Jika ada masalah sensitif, diskusikan langsung (tatap muka), bukan hanya di grup
4. Jangan langsung emosi membaca teks — tanyakan maksudnya dulu
5. Gunakan fitur klarifikasi atau voice note jika perlu agar tidak salah paham
Karena teks tidak punya nada suara dan ekspresi wajah, jadi mudah disalahartikan.
Ada sistem pengingat khusus (notifikasi prioritas)
Ada daftar hadir digital supaya warga lebih merasa bertanggung jawab
Selain itu bisa ditambahkan: π― Program “No Gadget Hour” saat acara kampung Setiap pertemuan warga, peserta diminta menyimpan ponsel agar fokus berinteraksi langsung.
---
Bagaimana ini mengatasi masalah?
Karena masalah utama di cerita adalah renggangnya interaksi langsung. Dengan fitur ini, aplikasi justru dipakai untuk mengatur pertemuan fisik, bukan menggantikannya. Jadi teknologi mendukung kebersamaan, bukan memisahkannya.
Nama: M.iqbal dan Aditya Fajar Kelas : X-3 DamPak Positif - mempermudah leomunikasi dan kordinasi warga. Pok Joko Lebih mudah mengatur berja bakti lewat aplikasi informasi Jadi Cepat sampai Tanpa harus keliling rumah - meningkatkan ekonomi warga ibu sari bisa menerima Pesanan dari luar kampung lewat Fitur katalog umkm. artinya Pasar Jadi lebih luas dan Penghasilan bisa meningkat Dampak negatif - menurunnya interaksi sosial tatap muka - Sebagian warga merasa tersisih atau tergantikan. yang lebih kuat Pengaruhnya menurut saya dampak negatif. karena meskipun ekonomi dan informasi Berkembang, Hubungan Sosial warga menjadi tenggang.
2 Cara membantu warga agar tidak terpinggirkan - melibatkan mereka dalam sistem digital memberi Pelatihan literasi digital - membuat Peran baru berbasis Pengalaman mereka
3.aturan/netiket untung mengurangi kom Flik - Gunakan bahasa yang sopan dor Jelas - Jangan langsung menyimpulkan Pesan orang lain - Hindari menyebarkan informasi Sebelum memastikan kebenarannya - masalah sensitif sebaiknya dibicarakan Secara langsung - BatasΔ± spam/Pesan berlebihan agar informasi Penting tidak tenggelam
4 usulan Fitur/Program untuk memperkuat Ikatan Sosial. Fitur diaplikasi: ada menu khusus bersama"agenda tetap muka"yang secara rutin menjadwalkan: - Diskusi bulanan warga - Gotong tayong - Pasar umkm langsung - ngopi bareng atau malam budaya. Cara mengatasi masalah - aplikasi tidak hanya Jadi tempat diskusi online tapi Penggerak Pertemuan nyata - interaksi langsung mengurangi salah Paham. - Tradisi gotong royong dan kebersamaan Tetap terjaga
Nama kelompok:-Ratih Purwasih
BalasHapus-Nur Marisa
Kelas:X-3
1 . a. Rasa terisolasi dan dikucilkan
Siswa yang tidak tergabung dalam Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak diterima secara sosial. Hal ini berdampak negatif karena manusia membutuhkan interaksi dan pengakuan sosial untuk menjaga kesehatan mental dan kepercayaan diri.
b. Kesenjangan informasi akademik
Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup privat Klub Gold. Dampaknya, siswa lain tertinggal secara akademik bukan karena kemampuan, tetapi karena tidak mendapat akses informasi.
c. Munculnya cyberbullying pasif
Komentar sarkastik, pamer gaya hidup, dan sikap eksklusif di media sosial menimbulkan tekanan psikologis. Walau tidak menyerang langsung, hal ini tetap menyakiti dan menurunkan rasa percaya diri siswa lain.
2 .Kesenjangan digital tidak hanya soal kepemilikan gadget atau internet, tetapi juga akses terhadap informasi dan relasi sosial.
Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital dengan cara:
Memonopoli informasi penting melalui grup chat tertutup sehingga hanya kelompok tertentu yang mengetahui perkembangan sekolah.
Membatasi relasi sosial, karena hanya siswa tertentu yang dianggap “layak” untuk masuk lingkaran pergaulan.
Menciptakan eksklusivitas digital, di mana media sosial menjadi alat pemisah status sosial, bukan sarana komunikasi yang menyatukan.
3.Jika saya termasuk salah satu dari 30 siswa yang pertama kali diikuti akun tersebut, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah:
Mengusulkan agar informasi sekolah dibagikan secara terbuka, bukan hanya di grup eksklusif.
Menolak konten pamer yang berlebihan dan mengingatkan teman bahwa media sosial seharusnya tidak merendahkan pihak lain.
Mengajak siswa lain bergabung dalam kegiatan nyata, seperti belajar kelompok terbuka atau kerja kelompok lintas kelas.
Memberi masukan secara sopan kepada pembuat akun tentang dampak sosial yang bisa timbul dari sikap eksklusif.
4 .Inisiatif: Akun Instagram Sekolah “@InfoCendekia”
Deskripsi:
Akun resmi atau semi-resmi yang dikelola OSIS dan guru pendamping.
Berisi informasi akademik, pengumuman kegiatan, dan konten positif tentang kebersamaan.
Kolom komentar diawasi agar bebas dari sindiran dan ujaran merendahkan.
Tujuan:
Menjamin akses informasi yang adil bagi seluruh siswa.
Menumbuhkan etika berkomunikasi digital yang sopan dan bertanggung jawab.
Mencegah munculnya kelompok eksklusif yang merugikan iklim sosial sekolah.
NAMA : AZZRILLA ZAHRA RAHARJA DAN SYA'REA FUTRI
BalasHapusKELAS : X-3
JAWABAN
1. Dampak Negatif :
- Eksklusi Sosial → siswa di luar klub merasa tersisih & tidak dianggap.
- Kesenjangan Informasi → info tugas/jadwal hanya beredar di grup privat sehingga merugikan siswa lain.
-Tekanan Psikologis → konten pamer membuat siswa minder & menurunkan kepercayaan diri.
2. Memperbesar Kesenjangan Digital Karena:
- Informasi penting hanya bisa diakses kelompok tertentu.
- Relasi sosial jadi tertutup dan tidak merata.
- Siswa di luar klub sulit berpartisipasi dalam kegiatan akademik dan sosial.
3. Tindakan Etis Sebagai Anggota Awal Klub Gold:
- Membagikan info sekolah ke grup resmi kelas.
- Mengingatkan pembuat akun agar tidak eksklusif.
- Mendorong agar akun bersifat terbuka atau tidak membawa urusan sekolah.
4. Ide Inisiatif Sederhana:
Membuat akun/grup info sekolah resmi yang terbuka untuk semua siswa, khusus untuk pengumuman akademik, dengan aturan etika komunikasi dan pengawasan guru.
Nama : Enjelia
BalasHapusWelly
1. Eksklusi Sosial Pengucilan Menciptakan batasan antara si "populer" dan "biasa saja", yang merusak rasa persaudaraan dan membuat siswa seperti Sofi merasa terisolasi.
Kesenjangan Informasi: Informasi penting sekolah menjadi tidak merata. Hal ini kerena siswa di luar grup kehilangan hak akses informasi pendidikan yang setara.
Gangguan Kesehatan Mental: Menimbulkan rasa khawatir, tidak percaya diri, dan kemurungan akibat merasa tidak memenuhi standar "keren" di media sosial.
2. Memperbesar Kesenjangan Digital
Dalam kasus ini, kesenjangan digital bukan lagi soal siapa yang punya smartphone mahal, melainkan kesenjangan akses informasi dan modal sosial.
Informasi: Teknologi digunakan untuk membatasi penyebaran info penting hanya kepada kelompok tertentu.
Relasi: Media sosial disalahgunakan di mana mereka yang tidak "terkoneksi" secara digital kehilangan kesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi di dunia nyata.
3. Tindakan Etis sebagai Anggota "Klub Gold"
Jika saya terpilih, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah:
Menolak secara halus: Tidak mengikuti balik akun tersebut jika tujuannya hanya untuk pamer
Menjadi jembatan: Tetap membagikan informasi penting dari grup privat tersebut ke grup kelas umum agar semua teman mendapatkan akses informasi yang sama.
Menyarankan Menghubungi pembuat akun secara pribadi dan menyarankan agar kontennya lebih merangkul semua siswa dan tidak menggunakan tag #InnerCircle yang memicu perpecahan.
4. ide sederhana Gerakan #CendekiaConnect
Konsepnya sebuah kampanye sekolah di mana setiap kelas memiliki satu grup besar yang wajib menyertakan seluruh siswa tanpa terkecuali.
Aturan Tak Tertulis: "Informasi Akademik Adalah Milik Bersama." Artinya, setiap informasi sekolah yang masuk ke grup privat harus di- screenshot dan dibagikan ke grup kelas umum dalam waktu maksimal 10 menit.
Tujuan: Menjadikan media sosial sebagai sarana kolaborasi, bukan kompetisi status sosial.
Nama kelompok : •yuanisa putri
BalasHapus• Cahya mulidiyani
Kelas. : X-3
1. •Marginalisasi (Pengucilan): Siswa di luar grup merasa rendah diri dan tidak dianggap.
•Ketidakadilan Akademik: Informasi penting (remedial) terhambat, merugikan siswa secara nilai.
•Polarisasi Lingkungan: Munculnya kubu-kubu yang saling sindir, merusak kekompakan sekolah.
2.Kesenjangan bukan lagi soal punya gadget atau tidak, melainkan monopoli informasi. Klub Gold menggunakan teknologi sebagai "benteng" untuk membatasi siapa yang boleh tahu informasi penting, sehingga siswa yang tidak terkoneksi secara sosial menjadi tertinggal secara informasi.
3. •Edukasi Teman: Mengingatkan admin agar akun lebih terbuka dan tidak pamer.
•Distribusi Informasi: Menyebarkan info penting dari grup privat ke grup kelas umum agar semua tahu.
•Sikap Inklusif: Tetap bergaul dengan teman di luar grup untuk mematahkan kesan eksklusif.
4.Aturan "Satu Pintu": Kesepakatan bahwa semua info sekolah wajib dibagikan di grup kelas resmi. Jika ada info yang sengaja disembunyikan di grup privat, hal itu dianggap pelanggaran etika kelas. Ini memastikan akses informasi setara bagi semua siswa tanpa terkecuali.
1. Tiga Dampak Sosial Negatif dari Klub Gold
BalasHapusa. Rasa Terkucilkan dan Rendah Diri
Siswa yang tidak masuk Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak “cukup keren”. Hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri, membuat mereka sedih, cemas, bahkan kehilangan semangat belajar.
b. Kesenjangan Informasi
Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup eksklusif. Ini merugikan siswa lain karena mereka kehilangan akses terhadap informasi akademik yang seharusnya terbuka untuk semua.
c. Perpecahan dan Polarisasi Sosial
Terjadi pengelompokan di sekolah (meja kantin terpisah, sindiran di media sosial). Hal ini merusak kebersamaan dan menciptakan suasana tidak nyaman di lingkungan sekolah.
d. Cyberbullying Pasif (tambahan jika ingin lebih dari 3)
Walaupun tidak menghina secara langsung, sikap pamer dan eksklusif bisa menjadi bentuk tekanan sosial yang membuat siswa lain merasa tersisih.
2. Bagaimana Klub Gold Memperbesar Kesenjangan Digital
Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang punya HP mahal atau internet cepat, tetapi juga soal akses terhadap informasi dan jaringan sosial.
Klub Gold memiliki akses informasi lebih cepat dan eksklusif, seperti jadwal dan tugas sekolah.
Mereka memiliki jaringan relasi sosial yang tertutup, sehingga kesempatan untuk berpartisipasi menjadi tidak merata.
Siswa di luar klub kehilangan kesempatan untuk terlibat, berkolaborasi, dan membangun koneksi.
Akibatnya, media sosial yang seharusnya menyatukan justru menciptakan batas sosial baru di sekolah.
3. Jika Saya Termasuk 30 Siswa Pertama
Tindakan etis yang bisa dilakukan:
Mengusulkan agar informasi sekolah tetap dibagikan di grup kelas resmi.
Mengingatkan teman bahwa bio seperti “Hanya untuk yang terpilih” bisa menyakiti perasaan orang lain.
Mengajak teman di luar klub untuk tetap dilibatkan dalam kegiatan.
Tidak ikut menyebarkan konten yang bersifat pamer atau eksklusif berlebihan.
Berdiskusi secara baik-baik dengan pembuat akun tentang dampaknya.
Intinya, bersikap inklusif dan empati, bukan hanya ikut arus.
4. Ide Inisiatif untuk Mencegah Kasus Serupa
π‘ Program “Cendekia Connect”
Bentuknya:
Akun Instagram resmi siswa yang dikelola OSIS untuk membagikan informasi sekolah secara terbuka.
Aturan tidak tertulis: Informasi akademik wajib dibagikan di grup kelas resmi.
Kampanye digital bertema: #SekolahUntukSemua
Sesi edukasi singkat tentang etika digital dan empati di media sosial.
Tujuannya:
Menciptakan komunikasi yang transparan.
Mengurangi eksklusivitas berlebihan.
Menumbuhkan budaya saling menghargai di dunia maya maupun nyata.
kelompok: berliana puspita ayu
intan nuraini
Nama Kelompok : Queenzha Nahla Audrey & Ade Nadya Putri
BalasHapusKelas : X-3
1. Dampak Sosial Negatif:
Rasa terkucilkan & rendah diri : Siswa di luar klub merasa tidak dianggap.
Kesenjangan informasi : Info penting hanya dibagikan di grup eksklusif.
Perpecahan sosial : Muncul kelompok-kelompok dan komentar negatif.
2. Kesenjangan Digital:
Bukan soal gadget, tapi soal akses informasi dan pertemanan. Anggota Klub Gold mendapat info dan relasi lebih luas, sedangkan yang lain tertinggal dan terisolasi.
3. Tindakan Etis:
Mengingatkan agar info sekolah dibagikan ke semua siswa.
Tidak mendukung konten eksklusif yang merugikan.
Tetap mengajak semua teman bergaul bersama.
4. Ide Inisiatif:
Buat akun resmi sekolah untuk membagikan semua info secara terbuka dan adakan kampanye etika digital agar media sosial digunakan secara inklusif.
Nama kolompok =
BalasHapusNi nyaman Swasnita Yuniari
Esteriagus Sabadtia.
Kelas X-3
mapa: Informabka
1.A.Rasa terisolasi dan rendah diri Siswa diluar Kiub good Merasa Fidor dianggap dan tidak "CUKUP Keren" Sehingga muncul perasaan minder, Cemas, dan lertekan secara Sosios
B. kesenjangan informasi akademie imformasi perniting seperti Jadwal fenmedial, fugas, dan kuis hanya dibagran di grup Privat, Sehingga siswa lain dirugikan secara akademik.
C. Perpecahan dan konflik sosiou adanya kubu EKSKLUSIF dan tandingan menyebabkan hubungan antar Siswa renggang, muncul komentar sarkastik, dan menurunnya rasa kebersamaan di sekolah
2.
-Merubatasi akses informasi sekolah hanya pada Kelompok tertentu
- jaringan pertemanan eksklusif yg memberi Keuntungan sosial dan akademik
-Membuat Siswa lain tertinggal bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak diberi akses.
3.
-Mengajak admin untuk membuka akses Informasi Penting bagi seluruh
-Menarak albau mengingatkan jika ada konten yg bersifat Parmer, merendah kan, atau aksklusif
-Mangusulkan agar akun difungsikan sebagai akun kegiatan Posikir buran Lingkaran Eartutup
4.
-Manbagikan Informasi Akademik dan kegiatan Sekolah Secara terbaka
-Dikaiola bersama osis dan Perwakilan Karas
-Mamiziki aturan atika digeas sederhana, Seperti, lidokaklusif, tidak marandahkan dan tidak menyebar Sindran
NAMA: GEA MARGARET HANDAYANI DAN AYRA TATALITA CAMELIEN LIU
BalasHapusKELAS: X-3
1. Dampak Negatif Klub Gold:
- Rasa Terkucilkan: Membuat siswa merasa tidak termasuk dan merusak kebersamaan di sekolah.
- Kesenjangan Informasi: Menghambat kesempatan belajar yang setara karena info penting hanya beredar di grup eksklusif.
- Polarisasi: Menciptakan konflik dan lingkungan yang tidak sehat akibat komentar sarkastik di media sosial.
2. Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital bukan hanya dari sisi gadget, tetapi juga membatasi akses terhadap informasi penting dan kesempatan membangun relasi sosial yang inklusif.
3. Tindakan Etis: Ajak anggota Klub Gold untuk membuka akses informasi dan kegiatan kepada semua siswa. Inisiasi kegiatan yang melibatkan seluruh siswa tanpa memandang status sosial.
4. Inisiatif Sekolah: Buat akun "CendekiaInklusif" untuk menyebarkan informasi sekolah secara merata, mempromosikan kegiatan inklusif, dan menjadi wadah diskusi tentang etika digital di kalangan siswa.
JAWABAN TUGAS KELOMPOK
BalasHapusANGGOTA KELOMPOK :
1). ELKA NOPITA RAHMAH
2). INSYIRA HANA NURHUWAIDA
MAPEL : INFORMATIKA
KELAS : RABU, 11 - 02 - 2026
1. Dampak sosial negatif dari penggunaan media sosial oleh Klub Gold
Berikut 3 dampak sosial negatif yang ditimbulkan:
a. Rasa terkucil dan tidak percaya diri
Siswa yang tidak tergabung dalam Klub Gold merasa tidak dianggap dan tidak “cukup keren”. Hal ini membuat mereka minder, sedih, bahkan menarik diri dari pergaulan.
b. Kesenjangan informasi sekolah
Informasi penting seperti tugas, kuis, dan jadwal remedial hanya dibagikan di grup privat Klub Gold. Akibatnya, siswa lain ketinggalan informasi dan bisa dirugikan secara akademik.
c. Munculnya konflik dan perpecahan sosial
Terjadi pengelompokan siswa (polarisasi) di kantin dan media sosial. Komentar sarkastik dan sindiran memicu suasana tidak nyaman dan merusak kebersamaan di sekolah.
2. Cara praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital (digital divide)
Kesenjangan digital tidak hanya soal punya atau tidak punya gadget, tetapi juga soal akses informasi dan relasi sosial.
Praktik Klub Gold memperbesar kesenjangan digital karena:
Informasi penting hanya beredar di grup tertutup, sehingga siswa di luar grup kehilangan hak yang sama untuk tahu.
Relasi sosial menjadi eksklusif, hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Media sosial digunakan sebagai alat pembatas pergaulan, bukan sebagai sarana komunikasi yang inklusif.
Akibatnya, siswa seperti Sofi tetap “tertinggal” walaupun punya HP dan internet.
3. Tindakan etis jika menjadi anggota awal Klub Gold
1). Jika saya termasuk 30 siswa yang pertama kali diikuti akun tersebut, tindakan etis yang bisa dilakukan adalah:
2). Mengusulkan agar informasi sekolah dibagikan juga di grup kelas atau akun resmi sekolah.
3). Tidak ikut menyebarkan konten yang menunjukkan sikap pamer atau merendahkan siswa lain.
4). Mengingatkan admin akun bahwa media sosial seharusnya membangun kebersamaan, bukan eksklusivitas.
5). Mengajak teman di luar Klub Gold untuk ikut belajar kelompok atau kegiatan bersama.
4. Ide inisiatif sederhana untuk mencegah kasus serupa
Inisiatif: Akun Instagram “InfoCendekia”
Sebuah akun sekolah yang:
Dikelola oleh OSIS dan guru pendamping
Membagikan informasi sekolah secara terbuka dan merata
Menampilkan kegiatan semua siswa tanpa membeda-bedakan
Mengedukasi etika berkomunikasi digital (anti sindir, anti eksklusif)
Dengan cara ini, media sosial menjadi alat pemersatu, bukan pemecah.
Nama kelompok:yusuf suories & giovanni evandes
BalasHapusKelas:x-3
No.1 Dampak positif aplikasi “kampungku”:
1.mempermudah komunikasi dan koordinasi warga
2.meningkatkan ekonomi masyarakat
Dampak negatif aplikasi “kampungku”
1.berkurangnya interaksi sosial tatap muka
2.ada warga yang tersisih atau kehilangan peran sosial
2.pak tono bisa dijadikan agen layanan digital top up e-wallet pembayaran listrik paket data.
Bu wati bisa menjadi narasuber konten budaya kampung
3.Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung
Tidak menyebarkan hoaks atau informasi yang belum pasti benar
4.fitus “Agenda kopdar dan gotong royong warga”
Aplikasi ini otomatis membuat jadwal kegiatan offline kerja bakti arisan olahraga bersama pengajian pasar minggu umkm
Ada tombol “saya hadir”
Manfaatnya warga kembali bertemu langsung gotong royong aktif lagi hubungan sosial menjadi lebih erat lagi teknologi akhirnya membantu bukan merusak kebersamaan warga
Nama: Zivanna dan Nova
BalasHapusKelas X-3
1.
a. Menimbulkan Perasaan minder dan tidak Percaya diri
Anggota yang tidak masuk Klub Gold bisa merasa tidak dihargai atau dianggap "Kurang keren". Sehingga menurunkan rasa Percaya diri
b. Menciptakan Kelompok eksklusif (Pergaulan tertutup Klub Gold hanya berinteraksi dengan kelompok tertentu, Sehingga membuat Siswa lain merasa dikucilkan dan tidak diterima
C. memicu Konfik dan Perpecahan Sosial
Postingan atau curhat yang bersifat Pamer, menyindir, atau Mengejek dapat menimbulkan iri hati, kesalah pahaman, dan Konflik antar siswa
2.
Cara klub Gold memperbesar kesenjangan digital. Kesenjangan digital bukan hanya Soal Punya atau tidaknya HP, tetapi Juga Soal akses informasi dan relasi Sosial,
a. Akses informasi tidak merata
Informasi Penting (tugas, kegiatan, Peluang lomba, dll.) hanya dibagikan di grup atau akun klub Gold, Sehingga siswa lain tertinggal.
b. Akses Telasi Sosial terbatas
Anggota klub Gold lebih mudah membangun Pertemanan kerja kelompok, dan relasi dengan guru atau senior, sementara siswa lain tersisih.
c. Dominasi opini dan Pengaruh
Klub Gold bisa mengontrol tren, opini, atau Pembicaraan di Sekolah lewat media sosial, Sehingga Suara siswa lain kurang didengar.
3.
a. Tidak ikut menyebarkan Konten negatif, tidak me-like, Share, atau mendukung Postingan yang merendahkan orang lain.
b. Memberi masukan Secara Sopan. mengirim Pesan Pribadi atau Komentar Positif agar akun bersikap lebih inklusif
C. Mengajak teman lain untuk bergabung.
mendorong agar akun terbuka untuk Semua siswa, bukan Kelompok tertentu Saja
d. Melaporkan Jika melanggar etika
Jika ada Perundungan atau diskriminasi, melopor ke guru atau Pihak sekolah
4.
Ide inisiatif Sederhana untuk mempromosikan Etika Digital Nama Inisiatif: "Sahabat Digital Sekolah"
Bentuk kegiatan : Dibuat akun instagram Sekolah khusus etika digital. Dikelola oleh Perwakilan siswa dan guru.
Berisi:
-Tips Komentar Sopan.
-konten anti bullying
-Cerita Inspiratif tentang kebersamaan
- Kampanye "Semua berhak didengar"
Aturan tidak tertulis:
-Tidak membuat grup ekslusif yang merugikar orang lain.
-Setiap informasi Penting harus dibagikan Secara terbuka.
-Menghormati Perbedaan.
Kegiatan Pendukung:
-Diskusi bulanan tentang media Sosial.
-Kelas literasi digital.
-Hari "No Hate Comment"
NAMA KELOMPOK: Ahmad Prayuda dan justin manuel
BalasHapusKLS: 3-X
1 Dampak positif dan negatif sosial dari aplikasi “KampungKu”
Dampak positif
1. Mempermudah akses informasi dan koordinasi
Informasi kampung, pengumuman kerja bakti, dan layanan publik menjadi lebih cepat dan efisien tanpa harus menunggu papan pengumuman.
2. Meningkatkan ekonomi warga
Contohnya Ibu Sari yang bisa menjual kue ke kampung lain lewat aplikasi. UMKM warga jadi lebih dikenal dan pendapatan meningkat.
Dampak negatif
1. Menurunnya interaksi sosial tatap muka
Obrolan di warung kopi berkurang, gotong royong sepi, dan diskusi langsung tergantikan oleh chat singkat di aplikasi.
2. Sebagian warga merasa tersingkir
Pak Tono dan Bu Wati kehilangan peran sosial dan ekonomi karena informasi dan layanan sudah tergantikan oleh teknologi digital.
Mana yang lebih kuat pengaruhnya?
Menurut saya, dampak negatif lebih kuat dalam cerita ini.
Alasannya, meskipun aplikasi membawa kemudahan, tapi yang rusak adalah ikatan sosial dan rasa kebersamaan, yang justru menjadi kekuatan utama Kampung Ceria sejak awal. Teknologi membantu secara praktis, tapi jika tidak diimbangi, bisa membuat masyarakat menjadi individualistis dan kurang peduli.
2 Solusi untuk Pak Tono dan Bu Wati agar tidak terpinggirkan
Masyarakat dan pengelola aplikasi seharusnya tidak hanya fokus pada teknologi, tapi juga pada manusianya. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Pelatihan dan pendampingan digital
Pak Tono bisa diajari menjual pulsa digital, jasa pembayaran online, atau menjadi agen top-up resmi aplikasi “KampungKu”.
Melibatkan peran tradisional ke dalam aplikasi
Bu Wati bisa diberi ruang khusus di aplikasi, misalnya fitur “Cerita & Pengetahuan Lokal”, tempat ia berbagi resep tradisional, sejarah kampung, atau silsilah keluarga.
Dengan begitu, teknologi bukan menggantikan mereka, tapi menguatkan peran mereka dengan cara baru.
Aturan netiket untuk mengurangi konflik di grup aplikasi
Agar konflik karena salah paham bisa diminimalkan, warga Kampung Ceria perlu menyepakati nilai netiket berikut:
1. Menggunakan bahasa yang sopan dan tidak provokatif
Hindari kata-kata kasar, sindiran, atau huruf kapital berlebihan yang bisa dianggap marah.
2. Tidak langsung berasumsi negatif
Jika pesan terasa menyinggung, warga harus bertanya atau klarifikasi dulu, bukan langsung menyalahkan.
3. Membaca pesan dengan teliti sebelum membalas
Banyak konflik terjadi karena salah paham akibat membaca pesan setengah-setengah.
4. Menghargai perbedaan pendapat
Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi orang lain.
5. Masalah sensitif dibahas secara pribadi atau lewat mediasi
Tidak semua konflik perlu diumbar di grup umum.
Aturan ini membantu grup aplikasi menjadi ruang diskusi yang sehat dan memperkuat hubungan sosial, bukan merusaknya.
4 Usulan fitur / program untuk memperkuat ikatan sosial tatap muka
Usulan: Fitur “Agenda Warga & Pengingat Tatap Muka”
Cara kerjanya:
Aplikasi “KampungKu” memiliki fitur khusus yang menampilkan agenda kegiatan offline, seperti:
Kerja bakti
Arisan warga
Ngobrol santai di balai desa
Kegiatan budaya atau olahraga
Fitur ini dilengkapi:
Notifikasi khusus (prioritas) agar tidak tenggelam
Tombol “Hadir” supaya panitia tahu siapa saja yang datang
Setelah acara, warga diminta upload dokumentasi kegiatan untuk meningkatkan rasa kebersamaan.
Mengatasi masalah
Mengurangi ketergantungan pada interaksi online
Mendorong warga kembali bertemu langsung
Menghidupkan kembali budaya gotong royong dan obrolan hangat
Dengan fitur ini, aplikasi tidak menjauhkan warga, tapi justru menjadi jembatan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Nama:Ezhar gifary
BalasHapusradit maulana
Kelas:X-3
1. b. Dampak Positif & Negatif
Dampak Positif:
Ekonomi Meningkat: UMKM seperti usaha kue Ibu Sari bisa menjangkau pasar yang lebih luas (kampung tetangga).
Efisiensi Birokrasi: Koordinasi kerja bakti oleh Pak RT jadi lebih cepat dan informasi desa terpusat.
Dampak Negatif:
Disrupsi Ekonomi Lokal: Pedagang tradisional seperti Pak Tono kehilangan pelanggan karena perubahan teknologi.
Erosi Sosial: Berkurangnya interaksi tatap muka dan melemahnya semangat gotong royong secara fisik.
Mana yang lebih kuat? Menurut kami, Dampak Negatif lebih kuat pengaruhnya di cerita ini. Alasannya, meskipun ekonomi naik, "roh" Kampung Ceria yaitu kebersamaan dan kerukunan justru mulai retak. Kemajuan materiil tidak ada artinya jika hubungan antarmanusia menjadi asing dan penuh konflik.
2. Solusi untuk Warga yang "Tertinggal"
Masyarakat dan pengelola harus melakukan Inklusi Digital, bukan eksklusi:
Transformasi Peran: Pak Tono bisa dibantu menjadi "Agen Digital Desa" (tempat bayar PPOB/Tagihan di aplikasi) agar kiosnya tetap ramai.
Digitalisasi Kearifan Lokal: Bu Wati diberikan ruang khusus di aplikasi sebagai kontributor konten "Resep & Sejarah Desa" atau diundang sebagai pembicara dalam workshop rutin desa agar ilmunya tetap dihargai.
3. Aturan Netiket (Etika Digital)
Agar tidak sering berantem di grup, warga perlu sepakat pada aturan Netiket menurut IETF:
Prinsip Klarifikasi (Tabayyun): Dilarang menyimpulkan pesan yang bernada negatif secara sepihak. Jika ada yang kurang jelas, wajib bertanya langsung atau lewat telepon.
Kendalikan Emosi (Flaming): Dilarang membalas pesan saat sedang marah. Gunakan bahasa yang santun dan hindari penggunaan huruf kapital semua (karena berkesan membentak).
4. Usulan Fitur: "Kupon Gotong Royong"
Nama Fitur: QR-Action Kampung
Cara Kerja: Setiap kali ada kegiatan tatap muka (kerja bakti, ronda, atau rapat), pengelola akan menyediakan QR Code untuk di-scan oleh warga yang hadir. Scan ini akan memberikan poin di aplikasi "KampungKu".
Mengapa ini berhasil? Fitur ini menggunakan konsep Gamifikasi untuk menarik minat anak muda. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan dengan potongan harga di UMKM desa (seperti toko Ibu Sari). Jadi, aplikasi tidak lagi menjauhkan orang, tapi justru menjadi alasan bagi warga untuk datang dan bertemu secara fisik demi
1️⃣ Dampak Positif & Negatif Sosial Aplikasi “KampungKu”
BalasHapus✅ Dampak Positif:
1. Mempermudah komunikasi & koordinasi warga
Pak Joko lebih mudah mengatur kerja bakti lewat aplikasi. Informasi jadi cepat sampai tanpa harus keliling rumah.
2. Meningkatkan ekonomi warga
Ibu Sari bisa menerima pesanan dari luar kampung lewat fitur katalog UMKM. Artinya pasar jadi lebih luas dan penghasilan bisa meningkat.
---
❌ Dampak Negatif:
1. Interaksi tatap muka berkurang
Warung kopi sepi, diskusi langsung berkurang. Hubungan sosial jadi lebih renggang karena komunikasi pindah ke layar.
2. Ada warga yang tersisih secara sosial & ekonomi
Pak Tono kehilangan pembeli koran, Bu Wati merasa perannya tergantikan. Digitalisasi bikin sebagian orang tertinggal.
---
π Mana yang lebih kuat pengaruhnya?
Menurutku, dampak negatifnya lebih terasa dalam cerita tersebut.
Kenapa?
Karena walaupun ekonomi dan informasi berkembang, hubungan sosial yang dulu hangat justru retak. Kampung itu bukan cuma soal akses informasi, tapi soal kebersamaan. Ketika gotong royong sepi dan diskusi jadi penuh salah paham, itu tanda bahwa ikatan sosialnya melemah. Dan dalam masyarakat desa, hubungan sosial itu pondasi utama.
---
π 2️⃣ Cara Membantu Warga yang “Tertinggal”
Supaya Pak Tono dan Bu Wati tidak terpinggirkan, masyarakat dan pengelola aplikasi bisa:
1. Melibatkan mereka dalam sistem digital
Pak Tono bisa diajak jadi agen pembayaran digital atau admin informasi lowongan kerja di aplikasi.
Bu Wati bisa dibuatkan fitur “Warisan Kampung” berisi silsilah keluarga dan resep tradisional yang dikelola olehnya.
2. Mengadakan pelatihan literasi digital Supaya warga yang belum terbiasa dengan teknologi tetap bisa ikut berkembang, bukan malah tersisih.
Intinya: digitalisasi bukan menggantikan manusia, tapi harus memberdayakan manusia.
---
π 3️⃣ Aturan Netiket untuk Mengurangi Konflik
Beberapa aturan yang perlu disepakati warga:
1. Gunakan bahasa yang sopan & jelas
2. Hindari menyebarkan informasi sebelum cek kebenarannya
3. Jika ada masalah sensitif, diskusikan langsung (tatap muka), bukan hanya di grup
4. Jangan langsung emosi membaca teks — tanyakan maksudnya dulu
5. Gunakan fitur klarifikasi atau voice note jika perlu agar tidak salah paham
Karena teks tidak punya nada suara dan ekspresi wajah, jadi mudah disalahartikan.
---
4️⃣ Usulan Fitur / Program Tambahan
π‘ Usulan: Fitur “Temu Warga Offline”
Fitur ini berfungsi untuk:
Menjadwalkan pertemuan tatap muka rutin (diskusi kampung, kerja bakti, ngopi bareng)
Ada sistem pengingat khusus (notifikasi prioritas)
Ada daftar hadir digital supaya warga lebih merasa bertanggung jawab
Selain itu bisa ditambahkan: π― Program “No Gadget Hour” saat acara kampung
Setiap pertemuan warga, peserta diminta menyimpan ponsel agar fokus berinteraksi langsung.
---
Bagaimana ini mengatasi masalah?
Karena masalah utama di cerita adalah renggangnya interaksi langsung.
Dengan fitur ini, aplikasi justru dipakai untuk mengatur pertemuan fisik, bukan menggantikannya. Jadi teknologi mendukung kebersamaan, bukan memisahkannya.
bu ini punya
HapusMuhammad Firman Aldiansyah putra
Yosy daviandra
Nama: M.iqbal dan Aditya Fajar
BalasHapusKelas : X-3
DamPak Positif
- mempermudah leomunikasi dan kordinasi warga.
Pok Joko Lebih mudah mengatur berja bakti lewat aplikasi informasi Jadi Cepat sampai
Tanpa harus keliling rumah
- meningkatkan ekonomi warga
ibu sari bisa menerima Pesanan dari luar kampung lewat Fitur katalog umkm. artinya Pasar Jadi lebih luas dan Penghasilan bisa meningkat
Dampak negatif
- menurunnya interaksi sosial tatap muka
- Sebagian warga merasa tersisih atau tergantikan.
yang lebih kuat Pengaruhnya menurut saya dampak negatif. karena meskipun ekonomi dan informasi Berkembang, Hubungan Sosial warga menjadi tenggang.
2 Cara membantu warga agar tidak terpinggirkan
- melibatkan mereka dalam sistem digital memberi Pelatihan literasi digital
- membuat Peran baru berbasis Pengalaman mereka
3.aturan/netiket untung mengurangi kom Flik
- Gunakan bahasa yang sopan dor Jelas
- Jangan langsung menyimpulkan Pesan orang lain
- Hindari menyebarkan informasi Sebelum memastikan kebenarannya
- masalah sensitif sebaiknya dibicarakan Secara langsung
- BatasΔ± spam/Pesan berlebihan agar informasi Penting tidak tenggelam
4 usulan Fitur/Program untuk memperkuat Ikatan Sosial.
Fitur diaplikasi:
ada menu khusus bersama"agenda tetap muka"yang secara rutin menjadwalkan:
- Diskusi bulanan warga
- Gotong tayong
- Pasar umkm langsung
- ngopi bareng atau malam budaya.
Cara mengatasi masalah
- aplikasi tidak hanya Jadi tempat diskusi online tapi Penggerak Pertemuan nyata
- interaksi langsung mengurangi salah Paham.
- Tradisi gotong royong dan kebersamaan Tetap terjaga